? Trik Jadi Penasehat yang Jitu | Indah Islam
3:13 pm - Wednesday December 16, 6640

Trik Jadi Penasehat yang Jitu

Thursday, 27 October 2016, 4:26 | Pendidikan Islam | 0 Comment | 801 Views
by Indah Fatmawati

penasehat-yang-jitu

Selamat pagi! Di akhir bulan Oktober ini Indah mau sedikit sharing aja atas catatan yang sudah beberapa lama tertulis dalam buku tapi belum tertuliskan di dalam web ini. Topik kali ini masih berhubungan dengan tarbiyah alias pendidikan. Entahlah tiga bulan terakhir ini, Indah jadi sangat tertarik tentang hal-hal yang berbau tarbiyah. Ibaratnya mataku menjadi tajam ketika melihat, mendengar dan merasakan hal-hal itu.

Langsung aja ya, ini adalah catatan dari kajian bersama ustadz Salim Yahya Qibas. Semoga ada manfaatnya buat kalian apalagi buat pada pendidik atau orang tua biar terus semangat dan istiqomah!

Ada empat syarat untuk menjadi penasehat yang jitu. Semoga saja ini tidak hanya mudah dituliskan namun, mudah juga untuk dipraktekkan!

1. Harus Berilmu 

beilmu-itu-penting

Menjadi seorang penasehat yang jitu yang pertama kali, harus punya ilmu ilmiah dulu. Harus punya ilmu dahulu agar nantinya tidka menyesatkan orang. Seperti yang dikatakan oleh nabi Nuh :

“Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui“. (Al-A’raf : 62) Jujur

Dengannya ilmu kita bisameluruskan seseorang. C0ba bayangkan ketika seorang ibu ditanya oleh anaknya. “Ummi, Allah itu di mana?”.. Dan ibunya menjawab “Allah itu ada di mana-mana, nak”. Waduhh, ini kan perlu ilmu untuk menjawab apalagi hal-hal yang berbau aqidah macam ini. Sehingga jika ia berilmu tentunya ibu itu tidak akan menjawab bahwa Allah itu ada di mana-mana atau sesuai dengan yang ia rasa saja.

Dengan ilmu.. Kita bisa meluruskan seseorang 🙂
2. Jujur

jujur-itu-harus
Menjadi orang yang layak dipercaya. Selayaknya seperti perkataan nabi Hud kepada kaumnya.

Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” (Al A´raaf 68)

Hingga nantinya InsyaAllah, kalau kita jujur alis layak dipercaya nasehat kita bisa diterima. Karena kalau cuma punya modal ilmu saja tapi tidak jujur biasnaya sering diragukan. Mari kita ambil contoh: “Mah Pah aku mau beli sepatu dong!”. “Enggak ada uang nak”… Padahal anaknya tahu, bahwa kemarin ayahnya baru saja gajian, padahal ia telah tahu bahwa di dompet ibunya ada uang dari arisan karena ibunya baru saja memenangkan giliran arisan bulan ini.

Aih, siapa yang tak merasa di bohongi? Memang sih, mungkin sepatu anaknya masih bagus dan tidak perlu untuk beli yang baru. Tapi bukan jawaban bohong yang diharapkan. Tapi ada baiknya “Nak, memang ada uangnya tapi bulan ini kita harus bayar ini dan ini dulu. Tidak cukup untuk beli sepatumu. Jadi nanti saja ya belinya. InsyaAllah ada rezekinya” atau mungkin jawaban yang manis seperti ini “Oke, kita beli sepatu. Tapi inget ya nak kalau itu nikmat dari Allah jadi harus disyukuri dan Ibu minta kamu untuk hargai dan hormati ayahmu karena ayahmu yang sudah bersusah payah buat cari nafkah siang sampai malam”

Jawaban bohong atau jawaban penuh pengertian yang lebih indah didengar?

3. Kepribadian yang Baik

kepribadian

Memiliki kepribadian yang baik, kesantunan. Bagaimana? Salah satunya dengan mengatur emosi agar tidak mudah marah. Kadang rasanya emosi pengen banget marah kalau ada hal-hal yang tidka diinginkan justru terjadi. Atau ada orang yang perilakunya justru membuat diri rasanya mau meledak-ledak. Ini pernah aku tuliskan dalam tulisan yang berjudul “Kenapa Harus Marah?

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas” “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS Toha: 43-44)

Seberapa biadabnya Fir’aun? Lebih mulia nabi Musa atau kita? Tapi Allah, masih menyuruh nabi Musa untuk… Berkata yang lemah lembut. Iya, mudah-mudahan yang dikasih nasehat bisa paham 🙂 Aamiin

4. Komunikasi yang Menyentuh Hati Mereka

penasehat-yang-baik

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS An Nisaa´: 63)

Gunakanlah bahasa yang menyentuh hati, gaya bahasa yang bisa masuk ke dalam hatinya. Mari kita ambil contoh dari cerita pak Salim.. “Ketika itu saya suka seklai pramuka. Sampai-sampai saya dna kakak-kakak saya tinggalin sholat. Tapi ibu saya enggak marah ketika kami pulang dari rumah, justru ibu saya hidangkan makanan untuk kami. Sembari makan, ibu saya bilang

“Nanti habis itu, kita ke tempat paman yang di sana ya.. Beliau punya anjing banyak banget”

Akhirnya kami ke tempat paman itu yang punya anjingnya banyak. Kita kasih makan dan lain sebagainya. Di sela-sela itu, ibu saya nanya ke paman itu “Pak, anjingnya udah sholat belum?” “Ya anjing kan ga sholat bu” “Oh iya ya..”

Dari situ, ibu saya bilang “Tuh nak, inget ya.. Anjing gak sholat”

“Jadi maksud ibu, kita itu anjing?”…  “Ibu enggak bilang nak kalau kalian anjing. Tapi ibu cuma ingatkan kalau anjing gak sholat. Makanya Allah bedakan kita dengan hewan. Maka ingat ya nak, anjing ga sholat”

-Dari situ, saya ingat.. Kalau anjing enggak sholat dan saya harus sholat supaya tidak sama dengannya-

Jadi sampai di sini dulu ya tulisannya hari ini, semoga bisa bermanfaat buat yang baca ini! 🙂

Salam Manis,
Indah F

About the author

Indah Fatmawati

Tagged with: , , , , , , , , , ,

Leave a reply

Like This Yo!