? This is What DemoCrazy Looks Like | Indah Islam
3:08 pm - Thursday October 19, 9493

This is What DemoCrazy Looks Like

Monday, 14 April 2014, 1:46 | Hukum Islam | 0 Comment | 58663 Views
by Indah Fatmawati

demokrasi

Setelah dua minggu lamanya tidak menginjak kaki ke lantai rumah. Aku sampai sekitar jam 5 sore. Seperti biasa, ibuku  baru saja pulang juga dengan membawa persenjataannya untuk membuat minuman untuk pengajian. Setiap dua minggu sekali di hari Jum’at, ada pengajian di rumah teman Ibu dan Ayahku. Karena sudah lama tidak ikut, akhirnya Indah memutuskan untuk ikut pengajian yang ustadznya adalah Ustdz. Salim Qibas.

Setelah dua minggu lalu mereka membahas tentang pilu ketika pemilu. Topik hari ini juga masih seputar tentang ini. Tentang demokrasi Indonesia. Hanya satu kata inilah yang bisa menyambung segala sistem hukum di Indonesia ini. Rasanya tak ada habisnya jika kita berbicara demokrasi. Kenapa? Ya lihat aja deh buktinya ya, Indah dari SD kelas 1 sampai yang mau lulus SMP kelas 3 aja masih terus belajar PKn. Mungkin di SMA dan kuliah bisa aja itu berlanjut.

“Hampir tiba suatu zaman di mana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang kelaparan mengerumuni hidangan mereka.”

Maka salah seorang sahabat bertanya,” Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada hari itu?”

Rasulullah S.A.W menjawab,
“Bahkan, pada hari itu jumlah kamu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di lautan, dan Allah akan mencabut ‘rasa gentar’ terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan melemparkan ke dalam hati kamu penyakit al-wahnu.”

Seorang sahabat bertanya, ‘Apakah itu al-wahnu itu, ya Rasulullah?’

Rasulullah S.A.W, menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” – (Hr Abu Dawud dan Ahmad)

Dari judul yang Indah berikan ini, Indah mencoba untuk menjabarkan bahwa sebenarnya ini adalah sebuah “Democrazy”. Karena kalian tahu? Perbedaan kata democracy dan democrazy tidah jauh beda. Hanya satu huruf yang berbeda. Sungguh, dari hadits di atas kita bisa tahu, bahwa zaman ini begitu dekat atau bahkan memang sudah seperti itu. Kalian tahu buih di lautan? Mereka banyak kan? Ya! Mereka terbawa ke mana saja arus membawanya kan? Ya! Tapi apa filosofi mereka? Buih lautan seperti orang-orang yang beragama islam tapi tidak berguna atau tidak berperan apa-apa di dalamnya.

democrazy

selingan: Ada yang masih ingat dengan acara tv ini? Acara tv yang bisa membuat penontonnya tertawa dengan fakta yang ada

Disaat pemilu misalnya. Orang-orang islam (masyarakat Indonesia) mereka seperti hidangan makanan yang berada di tengah kemudian diperebutkan oleh para parpol (partai politik). Atau bahkan hingga adanya istilah serangan fajar sebelum satu hari sebelum pemilihan. Besar harapan orang yang mendapatkan serangan fajar akan memilih partai atau orang tersebut.

serangan fajar CALEG

Sungguh ironi. Bagaikan semut mati di atas gula. Kalian tahu sobat? Tak ada dalil yang mengatakan bahwa kita wajib untuk memilih seorang pemimpin. Tapi ada larangan untuk memilih pemimpin yang kafir. Betapa hebatnya Allah, karena Allah tahu bahwa memilih pemimpin itu tidaklah mudah. Dan dalam memilih itu pemimpin itu tak semuanya bisa. Itu sangatlah berat.

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS 4 :58)

Apalagi bagi orang awam yang hanya ikut-ikutan. Nah di sinilah sistem democrazy berjalan di Indonesia. Dalam memilih seorang pemimpin itu, diperlukan orang-orang yang ahli. Di negara Amerika, siapakah yang memilih seorang hakim? Yang memilih mereka tidak semua warga negara Amerika. Tapi yang memilih hakim adalah orang-orang yang ahli. Bukan orang biasa-biasa saja atau orang awam yang tidak ahli atau bahkan tidak berpengetahuan tentang itu.

Tapi kenapa ketika pemilihan presiden, yang memilih adalah orang-orang biasa? Bukan orang-orang ahli yang memilih mereka? Bukankah pekerjaan seorang presiden jauh lebih berat dibandingkan seorang hakim?  Pekerjaan hakim dengan presiden lebih repot mana? Ya jelas presiden. Bukankah begitu? Itulah teori dari Amerika yang sekarang menjadi praktek di demokrasi Indonesia.

Karena dari sinilah, banyak orang yang berambisi menjadi pemimpin adalah orang yang terkenal seperti layaknya artis. Karena semakin orang mengenal mereka, masyarakat akan mengetahui dan lebih mengenal mereka lebih dalam. Apa sekarang semakin sedikit tokoh-tokoh masyarakat Indonesia?

Pemilihan umum dalam rangka memilih DPR, DPRD, Presiden dan banyak lagi itu seperti kontes audisi Indonesia Idol. Penilaian juri enggak laku. Tapi poling sms yang menentukan dia juaranya. Hanya bedanya, ini poling suara terbanyak. 🙁

Kalian tahu seorang PNS? Ya, Pegawai Negeri Sipil. Dalam penyeleksiannya mereka harus punya ijazah ini dan itu. Harus lulus SMP, SMA, bahkan S1. Lalu pertanyaan adalah.. Jika penyeleksian PNS saja begitu ketat yang kita tahu pekerjaan PNS seperti apa. Kenapa penyeleksian caleg sangat begitu mudah?

PNS yang tidak merumuskan kebijakan dan Undang-Undang saja perlu punya ijazah ini dan itu. Tapi kenapa ketika para calon legislatif yang harusnya merakyat, membuat kebijakan, merumuskan Undang-Undang yang sudah jelas-jelas pekerjaannya lebih berat, kenapa penyeleksiannya begitu mudah? Mungkin hanya dengan modal oh ya kan dia artis terkenal jadi gampang masyarakat kenal. Oh ya, kan dia punya banyak uang, jadi bisa berkampanye dan bersosialisasi dnegan masyarakat.

Seharusnya seleksinya misalnya minimal lulus S2. Karena apa? Toh misalnya pekerjaan dosen yang syaratnya saja harus S2 itu kan tidak membuat kebijakan. Hanya baca buku lalu menerangkan kepada mahasiswanya. Selebihnya? Itu dari mahasiswanya sendiri. Kalau dosen saja yang pekerjaannya seperti itu dan harus lulus S2, masa pencalonan legislatif syaratnya tidak minimal S2 juga?

Sungguh, democrazy. Sedih rasanya ketika melihat sistem pemerintahan di Indonesia ini. Padahal, kita harus menengok kepada sejarah Indonesia dahulu bagaimanakah susah payahnya memperjuangkan kemerdekaan. Apakah memang kurangnya kesadaran tentang hal ini?

Abdullah bin ‘Umar  berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda:

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah2, dan kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi, dan telah senang dengan bercocok tanam dan juga kalian telah meninggalkan jihad, niscaya Allah akan kuasakan/timpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dicabut/dihilangkan kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian.”

(HR Abu Dawud no. 3003 :kitab Al Buyu)

Ironi yang kita hadapi sekarang ini. Memang butuh kesabaran untuk menghadapinya. Bukan berarti mempunyai sikap apatis terhadap ini. “Ahh, udah begini.. Mau diapain coba?” Jangan hadirkan pemikiran yang tidak peduli dan masa bodo seperti itu. Karena apa? Ini adalah negaramu sendiri. Kemudian juga, tercatat di dunia bahwa negara Indonesia adalah mayoritas masyarkatnya paling banyak di dunia. Masa kita jadi tidak peduli seperti itu?


Ya, Indah tahu sih.. Indah cuma pelajar. Kemudian juga, yang Indah tulis ini dari hasil kajian bersama Ustadz Salim Qibas. Tapi sebenarnya ironi-ironi ini adalah tamparan besar bagi Indonesia untuk berusaha menegakkan kebenaran dan keadilan.

demokrasi indonesia

Salam,
Indah Fatmawati


About the author

Indah Fatmawati

Tagged with: , , , , , ,

Leave a reply

Like This Yo!