? Tentang Harta | Indah Islam
3:08 pm - Friday October 19, 9506

Tentang Harta

Tuesday, 27 May 2014, 22:12 | Hukum Islam | 0 Comment | 1913 Views
by Indah Fatmawati

harta perkara dunia

Ya, kembali lagi pada kajian yang baru saja saya hadiri setiap dua minggu sekali bersama Ustd. Salim Qibas. Hari ini topiknya adalah harta. Sebenarnya ada 8 points tapi kita bagi dua episode menjadi 4 points saja dulu yang setiap pointnya itu Pak Salim jadikan pertanyaan.

Kan gimana ya, amanah ilmu itu kan disampaikan. Jadi sebenarnya rugi banget kalau Indah enggak bagi-bagi. Salah satu termpat buat berbagi itu di sini. Jadi kita mulai ya.

Yang namanya harta itu adalah perkara dunia. Kemudian, apa itu dunia? Ya, dunia adalah tempat kita hidup. Yah, kalau begitu sih, anak kecil juga tahu. Yang jelas adalah dunia adalah segala sesuatu yang disukai oleh nafsu. Oh ya? Masih ga percaya? Coba lihat Qur’an Surat Ali-Imran ayat 14 ini:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Menurut saya, bercita-cita menjadi orang kaya, banyak uang, atau biasa disebut menjadi orang milyarder boleh banget. Namanya juga cita-cita, tapi yang terpenting adalah jangan sampai mempunyai harta menjadi sebuah tujuan. Jadikanlah itu sebuah sarana. Makanya terkadang kita temukan, orang yang kaya tapi tidak bahagia. Kan katanya uang tidka bisa membeli kebahagiaan, tapi uang bisa membeli mobil, rumah, tagihan listrik, internet, yang katanya “lumayan dekat dengan kehagiaan” Tetap saja, rasanya itu berbeda.

Jadi, kembali pada Pointnya.

1. Halal/Haram? Jelas tidak ini didapatnya?

halal atau haram

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.(QS 2:188)

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.  (QS An-Nisa: 29 )

Rasulullah Besabda:

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ
“Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, harga dirinya, dan hartanya”. [HR Muslim].

Sebagai seorang muslim, kita harusnya tahu mana yang bathil dan mana yang hak. Mana yang baik mana yang buruk bagi kita, karena kita telah diberikan akal oleh Allah. Pasti kita tahu mana yang haram mana yang halal.

2. Mampu atau Tidak? Ahli atau Tidak?

bekerja membantu orang

Maksudnya adalah, kalau kita bekerja dalam suatu bidang kita kan nantinya akan dibayar. Nah, dalam bekerja itu, apa kita mampu untuk melakukannya atau tidak? Ahli atau tidak? Karena kalau tidak, itu sama saja kita menyulitkan orang lain.

Seperti misalnya, kita bekerja membetulkan genteng yang bocor. Tapi karena kita tidak ahli dalam membetulkan genteng. Kemudian kita dibayar tapi besoknya itu hujan dan gentengnya ternyata kembali bocor. Itu sama saja kita menyulitkan orang lain, kan? Jangan terima pekerjaan jika kamu taidak ahli di bidangnya.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,…” (QS 4: 58)

Karena pada dasarnya Allah itu tidak memberatkan hamba-hamba-Nya lho. Jangan sampai memberatkan diri sendiri. Allah saja tidak memberatkan kita kok. Sesuai dengan friman-Nya:

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”           (QS An-Nisaa :28)

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS At-Tagabun:16)

Jadi intinya, jangan terima pekerjaan jika kita tidak ahli di bidangnya. Seperti nabi yusuf misalnya, beliau meminta untuk dijadikan berndahara karena beliau memang bidangnya di bagian bendahara.

Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.” (QS Yusuf : 54)

Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”  (QS Yusuf : 55)

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku Generic Cialis ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”  (Qs 28:26)

Tapi ada juga beberapa orang yang enggan menerima pekerjaan karena khawatir tidak bisa melaksanakannya dengan baik. Itu tidak apa-apa. Tapi adalah sebuah kewajiban menerima pekerjaan jika tidak ada lagi yang bisa melakukan kecuali orang itu. Maka ia wajib menerima pekerjaan itu. So guys, buat kalian kalau melamar kerja.. Yang sesuai dengan bidangnya ya! 😀

3. Ringan/Berat Pertanggung Jawabannya?

berat atau ringan

Setiap yang kita lakukan itu pasti ditanya pertanggung jawabannya. Bahkan, sikat gigi/siwak yang kamu beli saja akan ditanya sama Allah buat apa. Bagaimana dengan pakaian, lipstik, make up yang kamu beli itu.. Pasti akan ditanya juga kok.

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS al-Anfaal : 28)

Harta yang kita miliki itu, bukan milikmu sebenarnya. itu hanyalah titipan, amanat buat dirimu. Jangan khianati Allah dan Rasul-Nya. Belanjakanlah titipan itu sengan sebaik-baiknya dan infakkanlah.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS An-Anfaal : 27)

4. Melalaikan atau Tidak?

waktu melalaikan

Ini nih yang harus diwaspadai. Selain malas, ada juga lalai.

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS Al- Munaafiqun : 9)

Kita punya harta. Padahal itu hanyalah titipan Allah, tapi kita malah melalaikan diri dari mengingat Allah. Kalau kata Pak Salim, itu namanya belagu. Harta yang halal didapatkannya memang sangat. Kehalalannya memang bisa terjamin. Tapi, kebekahannya? Sesuatu yang halal belum tentu diberkahi Allah lho!

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,  (QS An-Nuur :36)

laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.  (QS An-Nuur :37)

Maka bersegeralah mengingat Allah. Karena kan Allah sudah berfirman. Semua itu ada waktunya. Ketika sudah adzan, ya sudah langsung menuju ke tempat wudhu untuk menunaikan sholat. Jangan ditunda-tunda lagi. Perkara dunia itu bukan apa-apa di mata Allah. Masa kita mau sebuah penundaan? Rezeki ditunda misalnya? Kan enggak enak juga. Makanya segerakanlah mengingat Allah. Setelah itu, ya bertebaranlah kamu di muka bumi.

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS Al-Jumuah :9)

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS Al-Jumuah : 10 )

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki. (QS Al-Jumuah : 11)

Rasa malas itu, memang sering sekali mengepung kita dari arah belakang, samping bahkan depan. Cobalah untuk menyegerakan kebaikan apalagi dalam mengingat Allah. Allah itu tidak suka bahkan benci diduakan, seperti syirik. Masa kita mengutamakan perkara dunia dahulu baru Allah? -__-”

Yang halal belum tentu berkah. Setiap yang menjadi titipan kita, akan dipertangungg jawabkan kepada Allah. Jadi terserah, apa yang mau kamu lakukan di dunia ini, toh akhirnya, akan ditanya oleh Allah. Dan jangan menerima pekerjaan yang kita tidak ahli dibidangnya. Tapi kalau ahli, lebih baik terima. Karena kalau bukan kamu? Siapa lagi?. Jadilah orang yang bermanfaat dan tidak menyulitkan orang lain. Kehadiranmu itu, seharusnya membawa arti buat semua orang. Ya kan? 🙂

Wallahu A’lam Bisshowab. Semoga bermanfaat dan menjadi pengingat diri untuku dan untukmu.
*artikel ini: adalah hasil dari kajian dengan Ustdz Salim Qibas..

Salam Manis,
Indah F

About the author

Indah Fatmawati

Tagged with: , , , , , , ,

Leave a reply

Like This Yo!