? Perjanjian Keluarga | Indah Islam
3:13 pm - Tuesday December 16, 6470

Perjanjian Keluarga

Wednesday, 8 February 2017, 12:26 | Pendidikan Islam | 0 Comment | 595 Views
by Indah Fatmawati

layla

Ada hal yang menarik untuk dituliskan di sini setelah Indah datang ke kajian setiap dua minggu sekali di hari Jum’at ba’da isya itu. Walau rasanya lelah setelah pulang dari sekolah sekitar magribh dan siap-siap untuk pergi lagi. Tapi masyaAllah, siapa sih yang enggak bahagia untuk pergi ke sebuah taman yang indah? Begitu juga dengan pergi ke kajian, ia bagaikan taman-taman surga! Tentu, harapannya dengan bisa menapakkan kaki di taman surga bisa juga menapakkan kaki di surga yang sesugguhnya! Aamiin.

Kali ini topiknya berbeda. Kalau aku boleh beri judul, namai sebagai “Sebuah Perjanjian Membangun Keluarga”. Aih, Indah masih jadi siswi SMA tingkat akhir yang kerjaannya itu jawab soal-soal sampai rasanya bosan banget. Tapi jangan salah, remaja seusia Saya juga sudah ada yang telah membangun rumah tangga (Read: Alvin, anaknya Ust. Arifin Ilham) —kupake untuk contoh ya Vin—.

Tapi bukan berarti Indah mau kayak Alvin. Masih banyak kewajiban-kewajiban Saya yang harus dituntaskan (#gaya ya). Well, di sini Indah mau berbagi tentang apa yang pak Salim Qibas berikan ketika di kajian.

Kalian tahu tidak? Kalau yang namanya pernikahan (a.k.a membangun keluarga) bukanlah hal yang sepele ataupun main-main. Ia merupakan sebuah janji, Allah menyebutkan dalam QS 4 : 21 bahwa ini adalah perjanjian yang amat-amat kuat. Ia merupakan amanah dari langit setelah Allah memberikan ta’kid (penekanan) dalam perjanjian-Nya dengan para nabi dan bani Israil dalam Qur’an.

Membangun keluarga bukan seperti perjanjian bisnis dan tentunya akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah.

“sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al-Israa : 34)

Setiap anggota maupun kepala keluarga tentunya diberikan amanah. Misal, Seorang Ayah mengemban amanah untuk mencari nafkah dan menjadi imam agar terbentuklah keluarga yang bertaqwa. Tentunya sekali lagi, ini bukan hal main-main.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal : 27)

Aihh, lagi-lagi..

Mengapa sih membangun keluarga adalah perjanjian yang amat kuat? Amanah yang sangat besar dan akan dimintai pertanggung jawabannya? Tentu! Karena lahirnya sebuah generasi dimulai dengan adanya keluarga. Keluarga itu bagaikan sumber mata air. Manusia-manusia yang ada di dalam keluarga merupakan air. Sedangkan negara, adalah bak yang menampung air tersebut.

Ketika sebuah negara menjadi sebuah negara yang baik bisa sangat dipastikan warga negaranya lahir dari keluarga yang sholeh. Tapi ketika negara kacau bisa juga dipastikan karena banyak orang-orang yang tidak baik di dalamnya. Ya iyalah, ketika air bersih di dalam bak lalu dicampurkan dengan air keruh yang volumenya banyak.. Tetap saja, air dalam bak akan terkontaminasi dan menjadi air keruh yang memenuhi dalam bak. Analogi yang sebenarnya simple untuk dipahami.

Ketika kita tidak bisa mengubah keadaan negara yang sedang dilanda banyak persoalan yang rasanya tidak selesai-selesai, mari kita tengok kita bersama. Mungkin ada yang salah dalam mata kita yang terlalu besar sehingga pandangannya begitu luas dan jauh hingga lupa untuk memperhatikan hal-hal yang kecil dan berada dekat kita.

Nyatanya, membangun keluarga selain bukan hal yang main-main tentunya mempunyai visi dan misi yang amat mulia. Apaa sih itu? Bagi yang sudah membangun keluarga *Mari di-review/ di-murajaah visi misinya. Semoga gak luntur semangatnya ya!

Misi: Menjadi bagian orang-orang bertaqwa dan masuk surga bersama-sama

Mengapa?

Tentu! Menikah adalah penyempurnaan setengah agama kita, serta membangun keluarga juga adalah sunnah Rasul. Kita hidup di dunia enggak akan lama, ya kan? Kita family gathering sama keluarga juga enggak akan selamanya. Karena kita akan dipisahkan oleh maut. Tapi, siapa sih yang enggak mau dikumpulkan di Surga bersama orang-orang yang dicintai? Saya yang menulisnya ini pun mau!

Keluarga adalah alat untuk menggerakkan visi-visi hingga “misi” itu bisa terwujud dan terealisasikan! Artinya apa? Ini memang bukan main-main dan perjuangan. Karena hidup di dunia ini hanya singgah, karena kampung kita yang sebenarnya itu surga.

Tentunya yang baca tulisan ini sudah pernah membaca Surat At-Thur ya. Qur’an itu emang lengkap banget menyiarkan berita dunia dan akhirat.

“Dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)’. Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka” (QS At-Thur (52) : 25-27)

Allah berfirman dalam kitab-Nya tentang berita di Akhirat. Ibarat kata, nanti para penduduk surga itu bakal saling bertanya-tanya “kenapa sih kok elu bisa masuk surga? Dengan apa?”. Ingat ya, di surga itu mereka enggak akan gossip atau berkata perkataan yang sia-sia.

Lalu ada yang jawab, “Iya dulu itu aku sama keluarga aku ditanamkan rasa takut sama Allah, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran, hingga kami menjadi orang yang benar-benar bertaqwa”

(Ini hanya gambarannya aja)

Terbukti tho? Kalau ternyata membangun keluarga yang isinya orang-orang sholeh dan sholehah itu amat-amat menguntungkan. Karena yang Allah tawarkan itu mahal, yang Allah tawarkan itu surga! Lebih mahal dari Ferrari, rumah di pondok indah, ataupun uang yang dimiliki Bill Gates, de el el.

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (At: Thur : 21)

Ya, semoga postingan kali ini menjadi reminder bagi siapa saja yang sudah membangun keluarganya sendiri, mau membangun keluarga, atau.. Macam Indah ini, yang menjadi bagian dari anggota keluarga (read: anak bungsu). Siap untuk mengemban amanah? Menjalankan visi untuk tecapainya misi?

Aih, tiap-tiap kita lahir dari sebuah keluarga. Karenanya, mari jalankan perannya masing-masing. Menjadi Ayah, imam yang sholeh. Ibu yang sholehah, anak yang sholeh maupun sholehah!

Semoga kelak, kita akan dikumpulkan bersama-sama dengan orang-orang yang kita cintai di Surga-Nya. Aamiin. Terus semangat untuk sebuah perjuangan ini!

Salam manis selalu,
Indah F

About the author

Indah Fatmawati

Tagged with: , , , ,

Leave a reply

Like This Yo!