? Oleh-Oleh Bertemu Sanak Famili : Udah Mau Kuliah ya? | Indah Islam
8:40 pm - Tuesday June 27, 2017

Oleh-Oleh Bertemu Sanak Famili : Udah Mau Kuliah ya?

Wednesday, 20 July 2016, 5:53 | Artikel Islam | 0 Comment | 728 Views
by Indah Fatmawati

jurusan wanita

“Mah, idul fitri itu.. Tanggal 6 Juni kan?”

“Iya Ndah.. Tapi, kalau di Indonesia kayaknya sampai akhir Juni juga masih ada tuh, acara silaturahim Halal bi Halal”

Ahahaha.. Entah ya, tapi keluarga besarku memang besar dan erat kaitannya dengan acara silaturahim halal bi halal. Bahkan panitia sudah dibentuk dari tahun lalu, silsilah keluarga terpampang jelas di acara halal bi halal. Bahkan kita seperti menghadiri pameran karena perlu name-tag untuk dituliskan kluwongso. Duhh, maklum.. Aselinya sih Jawa, tapi lahir dan tinggal ya di Jakarta-Bogor. Hasilnya sih, eleuh2, teteh.. Ndak ngerti bahasa Jawa!

Selalu ada oleh-oleh di setiap pertemuan, bersilaturahim dengan keluarga. Huft guys, apa oleh-oleh itu? Dah nyatanya oleh-oleh itu membuatku eneg karena terlalu sering menerimanya. Eits, oleh-oleh ini bukan tentang saudaraku yang memberikan setoples kue kastengel dan katetong kesukaan saya, bukan juga amplop yang isinya biru dan merah, (Kalau itu, enggak eneg!) Tapi oleh-oleh pertanyaan yang buat saya eneg dan rasanya enggak mau terima lagi. Apa aja tuh?

“Indah udah mau kuliah ya? Mau kuliah di mana? Jurusan apa?”

Izinkan aku menghela napas puanjaaaaaaaaaangg.. Aku enggak tahu, dan apa tanggapan kebanyakan dari mereka?

“Haduh Indah.. Kamu itu, Harusnya udah dipikirin dong. Kan sebentar lagi. Kok Malah masih bingung. Kamu sukanya apa? Passionnya apa?”

Heleuuh, namanya keluarga.. Wajar kalau mereka malah ikutan repot ya? Hihihi..
Guys! Udah mau kelas 3 ya? Wah-wah-wah.. Dilema itu begitu datang untuk menguji. Tapi buat teman-temanku yang khususnya perempuan nih ya. Indah mau share sedikit, semoga aja ada manfaatnya.

Segelintir pertanyaan itu seakan meneror otakku dan mendesak lisanku untuk tidak bungkam apalagi mengatakan “tidak tahu”. Huft, tapi tetap saja.. Ini tak bisa dijawab. Bahkan lisanku malah bertanya, “Indah cocoknya jadi apa?” Ehh, malah dibilang “Kamu lahir Jumat kliwon, cocoknya di air” Hahaha, -__-“

Tapi lama-kelamaan Indah semakin terus menyusuri.. Apa sih sebenarnya yang cocok buat wanita yang berusia 17 tahun ke atas? Sebenarnya wanita itu bagaimana seharusnya? Apa yang perlu disiapkan? Apa yang seharusnya dipelajari?

AHAY.. Dan Indah dapat ini,  yah walaupun.. Ucapan ini gak keluar dari lisan ibuku.

“Saya sekolahkan kamu. Kalau niat bekerja saya tidak ridho. Saya mendidikmu untuk menjadi wanita berpendidikan untuk dua hal…”

Jreng! Udah-udah.. Untuk ucapan selanjutnya gak perlu dibahas dulu ya guys. *Kapan-Kapan aja InsyaAllah*
Dari pesan itu, aku mencoba untuk menelaahnya matang-matang kemudian aku mencoba untuk melihat dari berbagai sudut pandang realita kehidupan sekarang ini:

“Ajaran islam dikatakan ortodoks, ajaran kafir ditelen mentah-mentah!”

WaAllahi, aku baru mengerti.. Bahwa jihadnya wanita itu, bukan pada karirnya yang naik daun, bukan berapa gaji yang ia peroleh per bulannya, bukan tentang ketenarannya di dunia.. Kau tahu apa? Emansipasi! Ada banyak yang bilang.. Wanita harus mandiri, bisa bekerja seperti laki-laki, setara derajatnya dengan laki-laki, dan.. Wanita tidak boleh dianggap lemah.

Okeh.. Tapi bukan seperti ini! Di mana peran kita sebagai wanita? Inget, tulang rusuk.. Bukan tulang punggung!
Dari sini, aku mulai menemukan titik awal mulaku. Ke mana aku harus melangkah, bagaimana dan ke mana Islam menempatkan seorang wanita seharusnya.

Aku pun merasakannya, dan teman-temanku pun.. Ikut merasakannya
Ketika orang tua khususnya para ibu harus pergi keluar rumah untuk bekerja. Aku baru paham, ini bagaikan para pasukan pemanah di perang Uhud yang meninggalkan bukit Uhud. Padahal apa tugas meraka? Apa yang mereka lalaikan? dan Apa yang terjadi setelah itu?

Perang Uhud, seakan mengajarkan kita, bahwa peran seorang ibu rumah tangga seperti tiang sebuah rumah. Ketika tiang itu pergi, apa yang terjadi pada rumah? Runtuh, Roboh, Hancur!

Tapi lihatlah, ibunda para ulama!

Tentang kesalihan Hasan Al-Bashri. Tentang kejeniusan Asy-Syafi’i, Tentang keadilan Umar bin Abdul Aziz, Tentang kekuatan hafalan Anas.. Siapa yang mendidik mereka? WaAllahi, ibunya. Siapa ibunya? Yang jelas… Ibunya bukan seorang tulang punggung yang rela meninggalkan rumah untuk berkerja demi mengejar karir dirinya sendiri, bagai pasukan pemanah yang meninggalkan bukit Uhud.

Aku semakin paham.
Akan jihadnya wanita.. Akan mulianya wanita! Wahai, kembalilah pulang  ke rumah, ibu.. Untuk para calon ibu, atau teman sebayaku yang perempuan.. Jangan pernah bermimpi, berniat, atau bercita-cita untuk kuliah lalu bilang “prospek kerjanya bagus”. Itu, bukan tempat jihadmu. Pun emansipasi, bukan tentang itu. Apakah mind-set itu sudah meracunimu? Tapi ketika darurat, pakailah ijazah itu. Ketika tidak.. Mengapa harus keluar meninggalkan ladang jihad yang sebenarnya? Menjadi tulang punggung, padahal sebenarnya wanita adalah tulang rusuk.

Jari ini terus menari, untuk setiap kata yang terukir di tulisan kali ini.. Mari, mencoba untuk meneliti kembali tentang apa isi pesan Rasul dan Allah untuk kita, kaum hawa. Tentang ayat firman-Nya dan Sunnah Rasul yang terucap tentang betapaa Allah dan Rasul-Nya begitu memuliakanmu, wahai.. Kaum hawa.

Salam Manis,
Indah Fatma

About the author

Indah Fatmawati

Tagged with: , ,

Leave a reply

Like This Yo!