? Niat Ala Robin Hood | Indah Islam
3:13 pm - Thursday December 16, 6179

Niat Ala Robin Hood

Monday, 27 November 2017, 15:00 | Hukum Islam | 0 Comment | 27 Views
by Indah Fatmawati

cara yang salah

Niat ala Robin Hood!

Masih ingat dengan cerita Robin Hood, sahabatku? Dulu ketika masih kecil, Robin Hood masuk ke dalam buku ceritaan kesukaan ketika ditanya oleh Mama buku mana yang mau dibacakan sebelum tidur. Robin Hood, tokoh yang terkenal dengan kehebatan pedang dan panahannya. Mempunyai hati yang baik dan empati kepada orang-orang miskin. Masih ingat ceritanya?

Robin Hood mencuri harta raja yang tamak dan kaya raya. Tapi hasil harta curiannya bukan untuk dirinya. Melainkan untuk orang-orang miskin yang membutuhkan! Well, cerita yang entah benar atau fiktif ini sebenarnya memberikan gambaran pada kita dan pelajaran ketika kita kembali pada tinjauan syariat. Apa ?

“Niat yang baik tak pernah mengubah kemaksiataan dari hakikatnya. Dan tidak pernah mengubah dosa dari hakikatnya.”

“Yang penting niatnya baik”. Berapa banyak yang berkata seperti itu tapi melupakan cara-cara yang juga baik? Seakan “niat yang baik” menjadi dalil utama dalam melakukan sesuatu. Padahal niat baik tak cukup menjadi sebuah patokan ketika melakukan suatu hal. Mari kita ambil contohnya:

Pada zaman khilafah, ada Seorang pemalsu hadist, Nuh Al-Marzawi. Saat itu khalifah mempunyai fungsi juga untuk menjaga agama. Akhirnya sang pemalsu hadist tersebut tertangkap. Ketika tertangkap dan diiterogasi. Beliau  ditanya, “Mengapa kau banyak memalsukan hadist nabi?”

Ia pun berkata, “Aku ini sengaja memalsukan hadist. Karena aku sekarang melihat terlalu banyak orang-orang itu lebih sibuk membaca fiqih. Maka aku sengaja palsukan hadist-hadist. Menceritakan tentang keutamaan surat-surat ini dan itu (di al-ur’an) supaya orang-orang itu tergerak kembali untuk membaca al-qur’an dengan keutamaan yang aku palsukan dari nabi”

Niatnya baik apa tidak? Tentulah baik. Tapi caranya salah atau tidak? Sudah tentu salah. Sahabatku, makanya ada kaidah penting untuk terus diingat sebelum melakukan sesuatu dan sesudah berniat.  AlGhayah La Tubarriru al-Wasithah (Tujuan itu Tidak menghalalkan segala cara). Pun niat dan tujuannya baik tidak serta merta menjadikan halal segala cara untuk menggapai tujuan tersebut. Kalau sudah haram, ya sudah tidak bisa menjadi halal karena niat atau tujuan yang baik.

Kisah dari Imam Abu Hanifah ketika melihat seseorang sedang maling buah. Kemudian Imam Abu Hanifah berupaya untuk berhusnudzhon. Namun ternyata ketika maling itu berjalan dan memberikan buah itu kepada orang miskin. Ketika itu Imam Abu Hanifah bertanya, “mengapa kau mencuri buah? Saya pikir kau sedang kelaparan!”

Lalu si pencuri itu berkata, “Tidak wahai bapak, aku ini bermaksud untuk mendapatkan pahala”. Lalu Imam Abu Hanifah heran dan bertanya, “Bagaimana bisa?”

” Dengarkan saya. Saya itu mencuri buah itu dosanya satu. Adapun ketika saya bersedekah berlipat gandakan menjadi 10. Jadi kalau dijumlahkan saya masih punya 9 pahala”

“Kamu telah mencuri dan ditetapkan atasmu dosanya. Namun kamu bersedekah dengan barang curianmu tersebut… Maka Allah tidak sudi menerima sedekahmu itu. Karena Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik… Jadi, yang tersisa darimu hanya satu dosa tadi”

Tsuuf, betapa pintarnya syaitan mengobok-obok niat dalam hati seseorang. Jangan mentang-mentang kita punya niat yang baik lalu menghalalkan segala cara. Karena Allah itu adalah dzat yang detail sekali tentang niat. Sangat perhatian pada niat seorang hamba. Karena dengan niat yang benar dan cara yang benar akan bernilai di hadapan Allah. Tapi ingatlah, niat yang benar namun dengan cara yang salah menjadikan tak ada harganya di hadapan Allah. Sama pula halnya, niat yang salah namun cara yang bernar menjadikan amalmu tak pernah bernilai di hadapan Allah..

Semoga niat puasa sunnah bukan karena melihat timbangan berat badan, sholat malam bukan karena anaknya besok ujian, mengundang anak yatim bukan karena butiknya sepi, menuntut ilmu supaya dibilang hebat, infaq karena supaya proyek bisnisnya bisa berhasil, mengenakan jilbab agar dilihat. Tsuuf.. karena ketaatan bisa berubah menjadi maksiat karena niat yang seharusnya seorang hamba tujukan untuk menggapai ridho Allah malah ia campakkan untuk mencari pujian, ketenaran, dunia dan seisinya yang padahal dunia nilainya lebih rendah daripada bangkai kambing!

Tapi perlu diingat juga, jangan sampai kita seperti Robin Hood, yang niatnya sudah benar tapi cara yang ditempuh salah. Jangan sampai niat yang baik dan niat yang benar menjadi patokanmu sebagai pembenaran atas cara yang ditempuh. Karena perkara maksiat dan perkara haram tidak akan bisa berubah menjadi sebuah ketaatan walaupun niatnya benar.

Sebelum kututup tulisan ini, mari kita bicara kepada hati masing-masing. Ketika berniat, coba tanya hati.. Apakah ini karena Allah? Kalau karena Allah, hendaknya bergegas untuk melakukannya. Tapi kalau bukan karena Allah, hendaknya ditinggalkan saja. Setelah berniat.. Mari berbicara pada hati kembali, apakah caranya benar? Apakah cara yang ditempuh mengundang murka-Nya? Jika iya, maka pasti ada yang salah.

..قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik…” (HR Muslim)

Semoga kita selalu menjadi hamba-Nya yang tidak salah dalam niat dan tidak terpeleset karena salah caranya. Tulisan ini khususnya juga sebagai pengingat yang menulis! Barakallahu fiikum sudah membaca.

Salam hangat,
Indah

About the author

Indah Fatmawati

Tagged with: , , , , , , ,

Leave a reply

Like This Yo!