? Di Djogja? Ke Masjid Jogokariyan Yuk! | Indah Islam
3:11 pm - Friday November 24, 2006

Di Djogja? ke Masjid Jogokariyan Aja Yuk!

Tuesday, 22 August 2017, 15:27 | Artikel Islam | 0 Comment | 183 Views
by Indah Fatmawati

masjid jogokariyan jogja

Sudah lama tidak kembali menulis, kangen rasanya untuk kembali di dunia tulis menulis. Entah sampai saat ini rasa suka akan menulis seakan hilang begitu saja. Tapi semoga tulisan kali ini dapat memberikan manfaat untuk yang membaca dan menulisnya. Awal bulan Agustus, Indah dan keluarga besar pergi ke Malang karena Om melangsungkan walimatul ursy’ di sana. Setelah dipikir-pikir, pergi ke luar kota semakin sering dengan sejalannya undangan walimatul ursy di luar kota. Alhamdulillah, banyak yang bisa diambil hikmahnya dari undangan di luar kota.

Karena sudah di Malang, ibuku bilang kalau beliau mau ke Yogyakarta. Tidak lain dan tidak bukan, sudah sejak satu tahun yang lalu.. Akhirnya cita-cita ini tercapai: Pergi ke Masjid Jogokariyan. Kami pergi malam hari dari Malang ke Yogyakarta dengan kereta Malioboro Express (Rp 150.000/orang) dan sampai di stasiun Tugu Yogya pada waktu mustajabnya do’a, dan orang-orang beriman sedang melaksanakan sholat tahajjud, Hehe.

Dari stasiun Tugu, kami pesan Grab. Tapi karena taxi online “tidak boleh” masuk stasiun dan bandara. Akhirnya Indah dan Papa Mama keluar stasiun dulu. Alhamdulillah orang tua masih enjoy dengan backpacker ala-ala berhemat, Hehe. Dan sampailah kami di Masjid Jogokariyan ketika adzan subuh! Masjidnya sudah dipenuhi dengan orang-orang yang mau melaksanakan sholat subuh. Selepas sholat subuh dan berdzikir, tiba-tiba datanglah sarapan bubur dan segelas teh hangat yang disajikan dan dibagikan kepada jamaah yang telah melaksanakan sholat. Satu orang, satu porsi! MasyaAllah..

Datanglah waktu dhuha, hari itu Hari Minggu. Ternyata banyak sekali para musafir dan orang-orang yang sedang melakukan studi banding di masjid Jogokariyan ini. Akhirnya kami dikumpulkan oleh panitia masjid untuk tanya-jawab dan sama-sama sharing. Tiba-tiba datang dari sudut kiri masjid Jogokariyan, alias dapur. Kotak dus besar berisikan roti pisang cokelat yang diberikan kepada kami yang sedang mendengarkan penjelasan. Tak lama juga, keluar permen kopiko (mungkin panitia tau kalo Saya ngantuk banget, Hehe). Maaf ya, karena perjalanan.. Saya rada ngantuk jadi ini hasil dari sharing waktu dhuha:

Sebenarnya masjid ini biasa saja. Dari segitu bangunan dan interior biasa saja. Bukan masjid fenomenal dikarenakan artitektur bangunannya. Tapi, masjid ini cukup fenomenal menjadi “percontohan” bagi ta’mir-ta’mir masjid yang lainnya. Bagaimana tidak, Indah sedikit kaget.. Ketika sesi sharing waktu dhuha tadi ada yang datang dari Tegal, Sorong, sampai negeri Oman. Banyak yang datang dan penasaran bagaimana masjid ini bisa menghidupkan orang-orang di sekitarnya.

  1. Menentukan Pemetaan Dakwah

    Sebelum masjid Jogokariyan ini memulai aksi dakwahnya kepada masyarakat, maka mereka menentukan peta masjid. Mana yang harus didakwahi, mana yang menjadi target, RT/RW mana yang diajak. Mengapa hal demikian dilakukan? Hal ini bukan berarti masjid Jogokariyan memilih-milih. Namun ada yang perlu diingat, karena di daerah sekiutar sana juga terdapat masjid juga. Jadi agar tak terjadi pen duoble-an. Ketika sudah jelas mana yang dipetakan dan didakwahkan, maka lanjut ke:

  2. Sensus Penduduk

     Memang kesannya bagaikan pemerintah sipil yang mendata penduduk. Tapi pendataan ini ternyata amat diperlukan. Karena dari data sensus penduduk kita akan tahu mana orang yang perlu masjid Jogokariyan bantu. Karena masjid ini tak pernah membiarkan saldo masjid terkumpul berjuta-juta! Mengapa? Karena amat tidak pantas ketika masjid mempunyai saldo yang banyak tapi ada jamaah sekitar masjid yang sedang sakit tak bisa berobat. Ada yang butuh makan tapi tak bisa makan, ada yang butuh uang untuk sekolah tapi tak bisa bersekolah. Lalu di mana peran masjid?
  3. Jadikan Masjid Obat Layaknya Rumah Sakit

    Masjid Jogokariyan ini membuka masjid seluas-luasnya. Kau tahu, rumah sakit saja siap melayani pasien, dan buka 24 jam. Masa, masjid yang juga merupakan tempat untuk mengobati hati hanya buka ketika sholat 5 waktu saja. Tutup ketika malam. Maka, masjid ini selalu menyala lampunya dan selalu terbuka pintunya bagi para tamu-tamu Allah yang ingin bermunajat.

Sebenarnya ada sejuta cerita di masjid Jogokariyan ini. Indah menginap juga di masjid ini. Karena di lantai 3 terdapat penginapan yang disewakan bagi umum. Harganya juga sesuai, 150-250 ribu tergantung ukuran kamar. Kamarnya pun lengkap, dengan fasilitas water heater, AC, kulkas, dan TV. Jadi masjid ini juga berbisnis. Di lantai bawah ada juga poliklinik gratis yang untuk warga sesuai jadwal yang di sediakan.

Kotak infaq di masjid ini juga punya namanya sendiri. Ada satu yang rasanya jarang banget ditemukan di masjid lain. Yaitu ini:

infaq sego jumat

Infaq sego Jum’at. Apaantuh sego? Nasi! Jadi selepas sholat Jum’at masjid ini biasa memberikan makanan untuk orang-orang yang telah melaksanakan sholat Jum’at. MasyaAllah ya, masih banyak kotak infaq yang punya judul lain. Seperti kotak infaq parkir, tak ada uang untuk satpam. Tapi infaq itu cukup untuk memberikan upah untuk satpam. Dulu, sebelum ada satpam, banyak sendal yang hilang. Tapi masjid pun bersedia untuk mengganti sendal orang-orang yang hilang itu. Tapi tak mungkinlah kalau selalu hilang lalu diganti masjid terus. Akhirnya masjid punya memasang CCTV dan juga ada satpam.

Banyaklah cerita di masjid di sini. Bisa kalian lihat di Youtube dari Ust. Salim Fillah mengenai masjid ini dan manajemennya. Tapi lebih mantab lagi kalau kalian datang ke Jogja dan ke masjid Jogokariyan. Kalau mau ke sana, ajak Indah juga boleh, Hehe.. Percaya atau enggak, saya betah di Jawa!

Sebelum Indah tutup tulisan ini, ada satu kepenasaran ibu saya. Jadi sebelum kami pulang ke Jakarta kita minta pergi ke pasar dulu sama mas Isnan, akhirnya kami diantarkan dan Ayah saya nunggu dan kita diteleponin terus karena lama. Kau tahu, apa yang kita cari?

tempat makanKalian lihat enggak? ada besi yang melingkar-lingkar itu. Nah itu adalah tempat untuk menaruh piring. Ibarat kata, seperti nampan  untuk menyuguhkan makanan. Modelnya praktis! Tidak seperti Uda atau Uni di restoran Padang yang tangannya sudah lihai dengan banyak piring. Tadinya kalau ada yang model ini di pasar, mau dibawa pulang!

Tapi qadarullah kami tidak mendapatkannya. Mungkin masjid Jogokariyan memang kreatif ya. Kalau kalian nemu di toko atau jual, hubungi Indah ya. Hehe.

Salam takzim dariku, masjid ini memang menghidupkan sekitarnya! Semoga selalu istiqomah.

manajemen masjid jogokariyan jogjakarta

About the author

Indah Fatmawati

Tagged with: , , , ,

Leave a reply

Like This Yo!