Masuknya Islam di Nusantara Berdasarkan Teori Persia

Masuknya Islam di Nusantara Berdasarkan Teori Persia

Seperti yang sudah diketahui oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, bahwa Islam masuk di Indonesia terdapat beberapa macam teori, salah satunya adalah tori Persia. Islam masuk di Indonesia dengan cara damai. Menurut Hasan Muarif Ambary, ada tiga tahap proses Islamisasi di Indonesia, yaitu: Pertama, Fase kehadiran para pedagang Muslim pada abad ke-7 sampai 10 M. Kedua, Fase terbentuknya kerajaan Islam pada abad ke-13 sampai 16 M. Ketiga, Fase pelembagaan Islam. Akan tetapi, tulisan ini hanya akan menjelaskan masuknya Islam di Indonesia menurut teori Persia.

Teori Persia menyatakan bahwa Islam masuk di Indonesia pada abad ke-13. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh P.A. Hosein Djajadiningrat. Teori ini didukung juga oleh Robert N. Bellah, Prof. A. Hasjmi, Prof. Aboe Bakar Atjeh, dan Ph.S. Van Ronkel. Pandangan teori ini berbeda dengan teori lain—Arab, Cina, dan India. Teori ini memusatkan kepada kebudayaan masyarakat yang memiliki persamaan dengan budaya Persia, sehingga asumsi dari persamaan sejumlah tradisi keagamaan antara Persia dan Indonesia inilah menjadi bukti bahwa Islam masuk di Indonesia dibawa oleh Persia.

Persamaan tradisi dan kebudayaan di Indonesia di antaranya adalah peringatan Asyura atau 10 Muharram sebagai peringatan Syi’ah atas Sayyidina Husein. Peringatan ini masih dilakukan di beberapa tempat di Indonesia, bahkan sampai sekarang masyarakat Indonesia memperingati 10 Muharram dengan pembuatan bubur Syura. Di Minangkabau bulan Muharram disebut dengan bulan Hasan-Husein. Kemudian, persamaan tradisi lainnya yaitu ajaran yang pernah dilakukan oleh Syekh Siti Jenar dan menyerupai dengan ajaran seorang sufi Al-Hallaj. Ajaran Al-Hallaj yang berbentuk puisi ini terus berkembang dan memungkinkan Syekh Siti Jenar telah mengadopsinya.

Bukti lainnya yakni penyebutan harokat dalam istilah Iran dan bahasa Arab seperti jabar (Vokal “a”) untuk fathah, jer (Vokal “I”) untuk kasroh, dan fyes (Vokal “u”) untuk dhomah. Pengaruh Persia ini memang sangat terlihat bekas dan jejaknya, baik dalam penggunaan kosa kata maupun karya sastra. Muhammad Abdul Jabbar Beg menulis buku Persian and Turkish Loan-Words in Malay menemukan kurang lebih terdapat 77 kosa kata yang menyebar di daerah Indonesia. Seperti halnya kata Kanduri (kenduri), astana (istana), bandar (pelabuhan), dan lain-lain.

Dalam hal karya sastra yang dipengaruhi oleh Persia dapat dilihat ketika munculnya karya-karya terjemahan berbahasa Persia seperti Qissa-i-Emir (Hikayat Amir Hamzah, mengisahkan kepahlawanan Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah Saw), Qissah Insyiqaq al-Qamar (Hikayat Bulan terbelah, mengisahkan mukjizat Nabi Muhammad Saw), Rawdat al-Ahbab (Hikayat Nur Muhammad, mengisahkan cahaya kenabian yang mula-mula dicipta Allah dari cahaya-Nya), Wafat Nameh (Hikayat Nabi Wafat), Qissah Wasiyah al-Mustafa li Imam Ali (Hikayat Nabi mengajar Ali), dam lain sebagainya.


Jadi, pengaruh-pengaruh dari Persia untuk masyarakat Indoenesia ini sebagai bukti bahwa masuknya Islam di Indonesia adalah dari Persia. Pengaruh Persia juga memberikan jejak yang sangat jelas, bahkan sampai saat ini, jejak-jejak itu masih digunakan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, proses Islamisasi dari Persia tidak kalah kuat oleh yang lainnya.

Belum ada Komentar untuk "Masuknya Islam di Nusantara Berdasarkan Teori Persia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel