Pengertian Stilistika Secara Etimologi, Terminologi dan Menurut Para Ahli

Stilistika Secara Etimologi

Secara etimologi, stilistika berasal dari bahasa Latin, yaitu ‘stilus’, yang berarti “pena’, yang kemudian berkembang menjadi sesuatu yang berkaitan dengan teknik penulisan, khususnya tulisan tangan. Makna ini juga berkembang ‘menjadi bahasa sastra’.[1] Secara leksikal kata stilistika berasal dari bahasa Inggris yakni stylistic. Sedangkan stylistic itu sendiri merupakan kata bentukan dari kata style yang berarti gaya, gaya bahasa,[2] yang kemudian menjadi stilistika dalam bahasa Indonesia.

Stilus sendiri juga berasal dari akar kata ‘sti’ berarti mencakar atau menusuk, dimaksudkan dengan gaya bahasa yaitu penggunaan gaya bahasa yang dapat mencakar atau menusuk pembaca. Stilistika ( stylistic) adalah ilmu tentang gaya, sedangkan stil (style) secara umum adalah cara-cara yang khas, bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu, sehingga tujuan yang dimaksudkan dapat dicapai secara maksimal. [3]

 Stilistika sebagai disiplin ilmu tersendiri lahir pada abad ke-20 yang merupakan pengembangan dari ilmu retorika yang telah lama berkembang di Yunani pada zaman Plato dan Aristoteles.[4] Stilistika sebagai cabang ilmu linguistik terapan yang mengarah kepada studi tentang gaya (style) atau kajian terhadap wujud pemakaiaan bahasa khususnya yang terdapat dalam karya sastra. Pemakaiaan ini memanfaatkan unsur bahasa pada setiap tatarannya, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik untuk mengaktualisasikan teks dengan berbagai pilihan dan bentuk kalimat.[5]

Stilistika sering dikaitkan dengan bahasa sastra, kata stilistika secara etimologis  berasal  dari  analisis  stilistika dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh penyimpangan bahasa yang digunakan pengarang serta bagaimana pengarang mempergunakan tanda-tanda linguistik untuk memperoleh efek estetis atau puitis. Dengan demikian, stilistika tidak dapat diterapkan dengan baik tanpa dasar linguistik yang kuat sebab salah satu perhatian  utamanya adalah kontras sistem bahasa sastra dengan bahasa pada zamannya.

 Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa  stilistika dalam  khasanah sastra Arab, dikenal dengan al-uslub. Secara etimologi al-uslub artinya garisan di pelepah kurma, jalan yang terbentang, aliran pendapat dan seni. Secara terminologi al-uslub artinya cara penuturan yang ditempuh penutur dalam menyusun kalimat dan memilih kosa katanya.[6]

Pada dasarnya antara stilistika Arab dan stilistika pada umumnya tidak ada perbedaan yang prinsipiil. Yang membedakan keduanya adalah bahwa Stilistika Arab memiliki ranah kajian berupa teks Arab dan muncul di latarbelakangi adanya keinginan para ahli bahasanya untuk memahami teks-teks keagamaan. Sedangkan stilistika non Arab pada umumnya dilatarbelakangi oleh pemikiran filsafat Aristoteles. Dengan kata lain, Stilistika Arab dilatarbelakangi oleh hadarah an-nas, sedangkan Stilistika pada umumnya dilatarbelakangi oleh hadarah al-fikr. Adapun dalam perkembangannya hampir tidak bisa dibedakan.[7]

Dari sini dapat disimpulkan bahwa antara uslub, style, dan gaya bahasa bermakna sama, hanya istilahnya saja yang berbeda. Uslub atau style yakni cara seseorang dalam menyampaikan gagasan dengan gaya dan ekspresi yang berbeda-beda dengan berdasar pada konteksnya. Hal tersebut merupakan ciri atau pembeda antara seseorang dengan yang lainnya dalam mengungkapkan suatu karya baik tulis maupun lisan. Sedangkan ilmu yang menaungi style disebut dengan stylistics dalam tradisi Barat, serta ‘Ilmu Uslub dalam tradisi Arab, dan gaya bahasa pada masyarakat Indonesia.[8]

2.      Stilistika secara Terminologi

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa stilistika berasal dari kata ‘stil’ . Abrams mengemukakan bahwa stil merupakan cara pengucapan bahasa dalam prosa, atau bagaimana pengarang mengungkapkan sesuatu yang hendak dikemukakan. Sejalan dengan Abrams, Nurgiyanto memandang stil sebagai teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang sekiranya dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan.

Menurut Leech dan Short, stile adalah cara penggunaan bahasa oleh pengarang tertentu, konteks tertentu, dan untuk tujuan tertentu.[9] Tulisan dalam konteks resmi tentu akan menggunakan bahasa formal. Namun, penggunaan bahasa dalam konteks resmi pun akan berbeda jika ragam bahasanya tidak sama. Konteks resmi untuk pidato ilmiah dan surat undangan resmi tidak sama, maka keduanya memunculkan dua stil yang berbeda. Bahkan, penulis yang sama, akan memunculkan stil yang berbeda jika konteks yang ditulisnya berbeda.

Dari sini dapat diketahui bahwa stil dapat berbeda-beda tergantung siapa penulisnya, aliran apa, periode yang mana, dan genre apa. Periode di sini terkait dengan aspek historis, penggunaan bahasa yang dipengaruhi kesatuan waktu tertentu. Setiap pengarang memang memiliki ciri khas yang bersifat individual, namun mereka tetap saja terpengaruh oleh ciri umum periode di mana berada.[10] Seperti karya yang dihasilkan oleh pengarang pada era penjajahan tentu akan berbeda dengan yang dihasilkan oleh pengarang di era revolusi industri 4.0 sekarang ini, begitu seterusnya.

Bagaimanapun juga, stil yang erat dengan ragam bahasa tidak sama dengan dialek. Dialek merupakan variasi wujud bahasa yang terjadi karena sekelompok orang yang memakainya, yaitu disebut dengn dialek sosial, atau terjdi karena faktor geografis, disebut dengan dialek regional. Variasi wujud bahasa dalam stile terjadi karena adanya tujuan tertentu.[11]

Dalam kaitannya dengan teori kebahasaan langue dan parole-nya Saussure, yang mana langue merupakan sistem kaidah yang berlaku dalam suatu bahasa, sedangkan parole merupakan penggunaan dan perwujudan sistem, seleksi terhadap sistem, yang digunakan oleh penutur. Maka stil merupakan suatu bentuk parole.

Stil atau wujud performansi kebahasaan, hadir kepada pembaca melalui proses penyeleksian dari berbagai bentuk linguistik dalam sistem bahasa. Adapun pengarang memiliki kebebasan penuh untuk mengekspresikan struktur makna ke dalam struktur lahir yang dianggap paling efektif. Pemilihan bentuk struktur lahir ini bisa sampai pada bentuk penyimpangan, bahkan distorsi dari pemakaian bahasa yang wajar. Namun, penyimpangan tersebut tidak selamanya dilakukan secara sadar oleh pengarang karena konstruksi yang dipilihnya merupakan cerminan dari pola berpikirnya tanpa diinginkankan.[12]

Dari penjelasan di atas, maka dapat ditarik pengertian stilistika secara terminologi sebagaimana yang diungkapkan Leech dan Short yang mendefinisikan stilistika dengan studi tentang stile, yaitu kajian terhadap wujud performansi kebahasaan.[13] Stilistika adalah bahasa yang telah dicipta dan bahkan direkayasa untuk mewakili ide sastrawan, sehubungan dengan hal tersebut, Ratna menyatakan bahwa stilistika adalah ilmu tentang gaya, cara-cara yang khas, bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu sehingg tujuan yang dimksud dapat tersampikan dengan baik.[14]

Dalam kamus Webster’s disebutkan bahwa stilistika adalah :

Stylistics : an aspect of literary study that emphasizes the analysis of various elements of style (as metaphore and diction); the study of the devices in a language that produce expressive value. ( Stilistika adalah salah satu aspek kajian sastra yang menitikberatkan pengkajian pada berbagai unsur gaya ( seperti metafora dan diksi); kajian yang memanfaatkan bahasa yang dapat melahirkan nilai ekspresi).[15]

Enkvist dalam On Defening  Style memberi definisi terkait stiliska,  yaitu :

  1. Gaya sebagai bungkus yang membungkus inti pemikiran atau pernyataan yang telah ada sebelumnya.
  2. Gaya sebagai pilihan antara berbagai pernyataan yang mungkin,
  3.  Gaya sebagai sekumpilan pribadi
  4. Gaya sebagai bentuk penyimpangan norma atau kaidah,
  5.  Gaya sebagai sekumpulan ciri-ciri kolektif,
  6. Gaya sebagai bentuk hubungan antara satuan bahasa yang dinyatakan teks yang lebih luas daripada sebuah ayat atau kalimat.[16]

Menurut Syihabuddin Qalyubi dalam disertasinya menyebutkan bahwa stilistika adalah ilmu yang mempelajari style dan berusaha menjelaskan ekspresi pengarang, nilai estetis yang ditimbulkan dari pemilihan kata, dan efek yang ditimbulkan dari makna.3

Analisis stilistika sendiri bertujuan untuk menerangkan sesuatu, yang dalam kesastraan digunakan untuk menerangkan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya. Selain itu, digunakan pula untuk menentukan seberapa jauh dan dalam hal apa bahasa yang digunakan memperlihatkan penyimpangan, serta bagaimana pengarang memperkuat tanda-tanda linguistik untuk memperoleh efek khusus.[17]

Kesimpulan

Stilistika adalah disiplin ilmu yang mengkaji wujud penggunaan bahasa dalam karya sastra yang meliputi seluruh pemberdayaan potensi bahasa, keunikan dan kekhasan bahasa serta gaya bunyi, pilihan kata, kalimat, wacana, citraan, hingga bahasa figuratif.

Pada dasarnya stalistika atau dalam literatur Arab dikenal dengan ‘ilmu uslub sama. Antara stalistika umum dan ‘ilmu uslub hanya dibedakan oleh penyebutan dan objek kajiannya.

Dari pengertian stilistika di atas diketahui bahwa ada dua hal yang paling mencolok dalam kajian stilistika yang saling berkaitan, yaitu aspek estetika dan aspek linguistik. Aspek estetika berkaitan dengan ciri khas yang digunakan penutur bahasa atau penulis karya sastra. Aspek linguistik berkaitan dengan ciri khas penggunaan pola-pola gramatika, fonologi, dan semantik.

Manfaat mengkaji karya sastra dengan menggunakan stilistika adalah 1) Mendapatkan dan membuktikan ciri-ciri keindahan bahasa yang universal dari segi bahasa dalam karya sastra . 2) Menjelaskan dengan baik keindahan sastra dengan menunjukkan keselarasan pemakaiaan ciri-ciri keindahan bahasa dalam karya sastra. 3) Membimbing pembaca menikmati karya sastra dengan baik. 4) Membimbing sastrawan memperbaiki atau meninggikan mutu karya sastranya. 5) Mengasah kemampuan untuk membedakan bahasa yang digunakan dalam satu karya sastra dengan karya sastra yang lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bustami, H. (2013). Ayat-ayat Tamtsil Al-Qur’an (Analisis Stilistika). Al-Ta’lim Jornal , 4.

Faizun, M. (2014). Retrieved from http://eprints.walisongo.ac.id/3919/3/094211021_Baba2.pdf.

Hakim, M. A. (2011). Stilistika Morfologi Al-Qur’an Juz 30. Lingua Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra, 1.

Nurgiyantoro, B. (1995). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ratna, N. K. (2009). Stilistika : Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Thoyyibah, A. (2018). Khutbah Thariq bin Ziyad (Kajian Stilistika). Alfaz, 5.

Zubair. (2017). Stilistika Arab :Studi Ayat-Ayat Pernikahan dalam Alquran. Jakarta: Amzah.

 

 



[1] Zubair,”Stilistika Arab :Studi Ayat-AyatPernikahan dalam Alquran”, ( Jakarta:Amzah,2017), hlm. 25.

[2] Hafni Bustami, hal.4,

[3] Nyoman Kutha Ratna,“Stilistika : Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya”,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2009), hlm. 3.

[4] Zubair,”Stilistika Arab : Studi Ayat-AyatPernikahan dalam Alquran”, ( Jakarta : Amzah,2017), hlm. 25.

[5] Zubair,”Stilistika Arab”,hlm.26.

[6] M. Faizun,“ Kerangka Teori Stilistika dan Kisah Al-Qur’an”, 2014 http://eprints.walisongo.ac.id/3919/3/094211021_Baba2.pdf, hlm.19.

[7] Ibid ,hlm.19-20.

[8] Anisatu Thoyyibah,Khutbah Thariq bin Ziyad (Kajian Stilistika)”, Alfaz, Vol 6, No. 2, 2018, hlm.5.

[9] Burhan Nurgiyantoro,”Teori Pengkajian Fiksi”,(Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1995), hlm. 276-277.

[10] Burhan Nurgiyantoro,“Stilistika”,(Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2017), hlm. 40-41

[11] Ibid, 41-42.

[12] Op.cit, hlm. 277-279.

[13] Ibid, hlm. 279.

[14] Nina Yuliawati,”Anlisis Stilistika dan Nilai Pendidikan Novel Bumi Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy”,Basastra, Vol. 1,No. 1,2012,hlm. 191.

[15] Zubair,”Stilistika Arab”, hlm.26

[16] Ibid ,hlm.29

[17] Op.cit, hlm. 279.

Belum ada Komentar untuk "Pengertian Stilistika Secara Etimologi, Terminologi dan Menurut Para Ahli"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel